Shapefile (SHP) Peta Mangrove Indonesia Skala 1:25.000 Update 2026

Indonesia memiliki salah satu ekosistem mangrove terpenting di dunia. Keberadaan mangrove bukan hanya berkaitan dengan konservasi lingkungan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam perlindungan garis pantai, penyimpanan karbon, habitat biota, perikanan, pengendalian abrasi, hingga perencanaan pembangunan di kawasan pesisir.

Dalam kegiatan pembangunan, keberadaan mangrove juga menjadi salah satu aspek penting yang perlu diketahui sejak tahap awal. Rencana pembangunan pelabuhan, kawasan industri, jalan, pertambangan, smelter, jetty, terminal khusus, kawasan wisata, permukiman hingga berbagai proyek pesisir perlu mempertimbangkan kondisi tutupan mangrove di sekitar lokasi kegiatan.

Untuk melakukan analisis tersebut secara lebih akurat diperlukan data geospasial yang dapat menunjukkan lokasi dan distribusi mangrove secara spasial.

Salah satu dataset yang sangat berguna untuk kebutuhan tersebut adalah Shapefile (SHP) Peta Mangrove Indonesia Skala 1:25.000 Update 2026 KLHK.

Berdasarkan attribute table yang ditampilkan, dataset ini mempunyai tingkat detail yang sangat baik. Data terdiri dari sekitar 240.462 feature polygon dan dilengkapi informasi mengenai kelas mangrove, sumber citra, tahun pembuatan, instansi, kondisi pembentukan, wilayah DAS, fungsi kawasan hutan, provinsi, kabupaten/kota, serta informasi luas/geometri.

Hal yang menarik lainnya adalah informasi sumber data pada attribute table yang menunjukkan penggunaan citra SPOT 8 Tahun 2025–2026 dan Sentinel-2A Tahun 2026.

Dengan skala 1:25.000, dataset ini sangat menarik untuk analisis spasial yang membutuhkan detail lebih tinggi dibandingkan peta mangrove skala regional.

Mengenal Shapefile Peta Mangrove Indonesia Update 2026 KLHK

Dataset yang dibahas adalah:

Shapefile Peta Mangrove Indonesia Skala 1:25.000 Update 2026 KLHK

Beberapa karakteristik yang terlihat dari data adalah:

InformasiKeterangan
TemaPeta Mangrove
FormatESRI Shapefile (SHP)
GeometriPolygon
Skala1:25.000
Tahun data2026
SumberKLHK
Jumlah feature±240.462 polygon
Sumber citra pada atributSPOT 8 2025–2026 & Sentinel-2A 2026
CakupanIndonesia
Analisis utamaMangrove dan wilayah pesisir

Jumlah feature yang sangat besar menunjukkan bahwa data mangrove direpresentasikan dalam banyak polygon, sehingga memungkinkan analisis spasial yang jauh lebih detail.



Struktur Data Shapefile Peta Mangrove 2026


Keunggulan Shapefile Peta Mangrove Update 2026

Dataset ini mempunyai sejumlah keunggulan yang membuatnya sangat menarik untuk berbagai kebutuhan GIS.

1. Skala Detail 1:25.000

Skala 1:25.000 menjadi salah satu keunggulan paling penting.

Data dapat digunakan untuk screening dan analisis spasial yang lebih detail dibandingkan peta mangrove berskala kecil.

2. Update Tahun 2026

Data menunjukkan tahun pembuatan/pembaruan 2026, sehingga memberikan gambaran mangrove yang lebih mutakhir dibandingkan dataset lama.

3. Menggunakan Referensi Citra Terkini

Pada atribut tercantum:

SPOT 8 Tahun 2025–2026 dan Sentinel-2A Tahun 2026.

Informasi sumber citra meningkatkan transparansi terhadap basis data penginderaan jauh yang digunakan.

4. Bersumber dari KLHK

Data mempunyai sumber institusi pemerintah yang jelas sehingga lebih mudah digunakan sebagai referensi dalam berbagai kajian profesional.

5. Jumlah Feature Sangat Detail

Dataset mempunyai sekitar:

240.462 polygon.

Jumlah tersebut menunjukkan tingginya segmentasi spasial data dan memungkinkan analisis yang lebih terperinci.

6. Dilengkapi Informasi Administrasi

Tersedia informasi:

Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Ini memudahkan proses filtering dan analisis per wilayah.

7. Memuat Informasi Fungsi Kawasan

Adanya field fungsi kawasan memberikan nilai tambah yang sangat besar.

Pengguna dapat melihat konteks kawasan tempat mangrove berada.

8. Memiliki Informasi Kondisi Mangrove

Field seperti kttj dan remark memberikan informasi lebih dari sekadar keberadaan polygon mangrove.

9. Siap untuk Analisis GIS

Data dapat digunakan untuk:

Clip, Intersect, Union, Dissolve, Buffer, Spatial Join, Select by Location dan Calculate Geometry.

10. Mudah Dioverlay dengan Data Proyek

Ini merupakan keunggulan utama format SHP.

Batas proyek dapat langsung dibandingkan dengan sebaran mangrove untuk mengetahui potensi overlap.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 Badan Geologi

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas tektonik yang tinggi. Posisi Indonesia berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik utama menyebabkan berbagai wilayah mempunyai potensi gempa bumi yang signifikan. Selain ancaman berupa guncangan, gempa bumi juga dapat memicu bahaya sekunder yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, salah satunya adalah likuifaksi.

Peristiwa likuifaksi menjadi perhatian besar karena dapat menyebabkan tanah kehilangan kekuatan dan kekakuannya dalam waktu relatif singkat ketika menerima beban siklik akibat gempa. Dampaknya dapat berupa penurunan tanah, pergeseran lateral, semburan pasir, deformasi permukaan, kerusakan fondasi, hingga kegagalan struktur.

Dalam konteks pembangunan, informasi mengenai daerah yang memiliki kerentanan terhadap likuifaksi sangat penting. Pembangunan kawasan industri, jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, fasilitas pertambangan, perumahan, gedung, bendungan, pembangkit listrik, hingga berbagai fasilitas strategis membutuhkan pemahaman mengenai kondisi geologi dan potensi bahaya geologi pada lokasi yang direncanakan.

Salah satu dataset geospasial yang dapat digunakan untuk mendukung proses tersebut adalah Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 Badan Geologi.

Dataset ini sangat berguna sebagai salah satu screening layer dalam analisis geospasial karena memungkinkan pengguna mengetahui distribusi zona kerentanan likuifaksi secara spasial, mengidentifikasi tingkat kerentanannya, serta mengombinasikannya dengan berbagai data lain menggunakan Geographic Information System (GIS).

Mengenal Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000

Dataset yang dibahas dalam artikel ini adalah:

Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 – Badan Geologi.

Berdasarkan attribute table yang ditampilkan, dataset menggunakan geometri:

Polygon

Polygon tersebut merepresentasikan zona kerentanan likuifaksi.

Attribute table menunjukkan tiga kelas utama kerentanan yang direpresentasikan dengan nilai:

1, 2, dan 3.

Keterangan atribut memberikan penjelasan karakteristik masing-masing zona.

Secara umum, struktur dataset dapat diringkas sebagai berikut:

InformasiKeterangan
DatasetPeta Kerentanan Likuifaksi Indonesia
FormatESRI Shapefile (SHP)
GeometriPolygon
Skala1:100.000
Update2026
SumberBadan Geologi
TemaKerentanan Likuifaksi
Klasifikasi3 kelas
PenggunaanMitigasi bencana dan screening geologi



Struktur Data Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi


Field kerentan

Ini merupakan salah satu field paling penting dalam dataset.

Field kerentan menunjukkan kelas kerentanan likuifaksi.

Berdasarkan attribute table, terdapat tiga nilai:

1, 2, 3

Menariknya, berdasarkan keterangan pada screenshot, nilai numerik tersebut perlu dibaca bersama field keterangan, bukan langsung diasumsikan bahwa angka terbesar berarti tingkat bahaya terbesar.

Pada data yang ditampilkan:

Kerentan 3

Dijelaskan sebagai zona yang jarang mengalami likuifaksi.

Likuifaksi yang terjadi umumnya berupa titik-titik semburan pasir dan relatif sedikit menimbulkan kerusakan pada struktur tanah.

Kerentan 2

Merupakan zona yang dapat mengalami likuifaksi secara tidak merata, dengan kemungkinan kerusakan struktur tanah.

Kerentan 1

Merupakan zona yang dapat mengalami likuifaksi secara merata dan struktur tanah pada umumnya dapat mengalami kerusakan yang lebih serius.

Keunggulan Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi

Beberapa keunggulan utama Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia antara lain:

  • Bersumber dari Badan Geologi sehingga memiliki referensi institusi resmi dan dapat digunakan sebagai data pendukung kajian geologi serta kebencanaan.
  • Skala 1:100.000, cukup detail untuk kebutuhan screening regional, perencanaan wilayah, dan identifikasi awal area yang memiliki kerentanan likuifaksi.
  • Memiliki klasifikasi tingkat kerentanan, sehingga pengguna dapat membedakan zona berdasarkan potensi dan karakteristik kejadian likuifaksi.
  • Dilengkapi informasi atribut, termasuk kelas kerentanan dan keterangan mengenai karakteristik kerusakan yang mungkin terjadi.
  • Siap digunakan dalam GIS, seperti ArcGIS, ArcMap, QGIS, dan Global Mapper.
  • Mudah dioverlay dengan data lain, seperti batas proyek, peta geologi, sesar aktif, kawasan rawan gempa, jaringan jalan, RTRW, permukiman, kawasan industri, dan wilayah pertambangan.
  • Mendukung analisis spasial, seperti Clip, Intersect, Spatial Join, Select by Location, serta perhitungan luas area yang masuk zona kerentanan tertentu.
  • Efektif untuk screening lokasi proyek, sehingga area yang memerlukan investigasi geoteknik lebih lanjut dapat diketahui sejak tahap awal.
  • Mendukung mitigasi risiko, khususnya untuk pembangunan jalan, jembatan, kawasan industri, pelabuhan, bandara, pertambangan, smelter, dan fasilitas strategis lainnya.
  • Lebih fleksibel dibandingkan peta JPG/PDF, karena objek polygon dan atributnya dapat diedit, difilter, dianalisis, serta dikombinasikan dengan database geospasial lainnya.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Lahan Baku Sawah Nasional Seluruh Indonesia Skala 1:50.000 Update 2026 ATR/BPN

Indonesia merupakan negara dengan sektor pertanian yang mempunyai posisi strategis dalam perekonomian nasional. Di antara berbagai komoditas pertanian, padi memiliki peranan sangat penting karena berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan lahan sawah perlu diketahui, dipetakan, dipantau, dan dipertimbangkan dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Pertumbuhan kawasan perkotaan, pembangunan jalan, kawasan industri, pertambangan, perkebunan, perumahan, serta berbagai proyek infrastruktur dapat menimbulkan perubahan penggunaan lahan. Tanpa informasi spasial yang memadai, proses perencanaan berpotensi menimbulkan konflik penggunaan ruang maupun konversi lahan pertanian.

Salah satu data geospasial yang sangat berguna untuk mendukung analisis tersebut adalah Shapefile (SHP) Peta Lahan Baku Sawah Nasional Seluruh Indonesia Skala 1:50.000 Update 2026 ATR/BPN.

Dataset ini menyediakan informasi lokasi dan batas polygon lahan sawah yang dapat digunakan dalam perangkat lunak Geographic Information System (GIS). Karena berbentuk data vektor polygon, pengguna tidak hanya dapat melihat persebaran sawah pada peta, tetapi juga melakukan berbagai analisis spasial seperti overlay, intersect, clip, spatial query, perhitungan luas, hingga analisis perubahan penggunaan ruang.

Apa Itu Lahan Baku Sawah?

Secara sederhana, Lahan Baku Sawah dapat dipahami sebagai informasi spasial mengenai keberadaan lahan yang diidentifikasi sebagai sawah dalam basis data pemetaan pemerintah.

Namun dalam penggunaan profesional, penting untuk memahami bahwa istilah Lahan Baku Sawah (LBS) tidak sebaiknya diperlakukan hanya sebagai informasi penggunaan lahan biasa.

Informasi mengenai sawah mempunyai hubungan dengan kebijakan pertanian, ketahanan pangan, tata ruang, pengendalian alih fungsi lahan, serta perlindungan lahan pertanian.

Karena itu, keberadaan suatu polygon LBS pada area rencana proyek dapat menjadi informasi penting dalam tahap awal kajian.

Sebagai contoh, perusahaan berencana membangun:

  • kawasan industri;
  • jalan akses;
  • fasilitas logistik;
  • perumahan;
  • jaringan transmisi;
  • kawasan komersial;
  • fasilitas energi;
  • atau infrastruktur lainnya.



Sebelum desain final ditentukan, batas proyek dapat dioverlay dengan Shapefile Lahan Baku Sawah.

Jika ditemukan overlap, tim proyek dapat melakukan kajian lebih lanjut terhadap status kawasan tersebut dan regulasi yang berlaku.

Dengan demikian, GIS membantu mendeteksi potensi constraint sebelum perusahaan mengeluarkan biaya pembangunan yang jauh lebih besar.

Mengenal Shapefile Lahan Baku Sawah Nasional Update 2026

Shapefile Peta Lahan Baku Sawah Nasional Seluruh Indonesia Skala 1:50.000 Update 2026 ATR/BPN merupakan dataset berbasis polygon yang dapat digunakan untuk menampilkan persebaran lahan sawah dalam lingkungan GIS.

Berdasarkan attribute table yang dilampirkan, dataset memiliki karakteristik sebagai berikut:

InformasiKeterangan
Nama dataPeta Lahan Baku Sawah Nasional
FormatESRI Shapefile (SHP)
Tipe geometriPolygon
CakupanIndonesia
Skala dataset1:50.000
Update dataset2026
Sumber dataATR/BPN
KategoriLahan pertanian/sawah
Informasi wilayahProvinsi dan Kabupaten/Kota
Informasi luasTersedia pada atribut
Jumlah feature pada dataset yang ditampilkansekitar 142.551 polygon

Jumlah feature yang besar menunjukkan bahwa area sawah direpresentasikan dalam banyak polygon individual sehingga pengguna dapat melakukan analisis spasial berdasarkan masing-masing feature.

Struktur Data Shapefile Peta Lahan Baku Sawah


Keunggulan Shapefile Lahan Baku Sawah Nasional

Beberapa keunggulan utama dataset ini adalah:

1. Cakupan Nasional

Dataset memungkinkan analisis lintas provinsi dan kabupaten/kota.

2. Format Polygon

Pengguna dapat melakukan perhitungan area dan overlay.

3. Memiliki Informasi Administrasi

Field provinsi dan kabupaten/kota memudahkan filtering.

4. Memiliki Informasi Luas

Field luas_polyg memberikan informasi kuantitatif per feature, dengan catatan satuannya perlu diverifikasi melalui metadata.

5. Mudah Digunakan di GIS

Shapefile dapat dibuka menggunakan berbagai perangkat lunak.

6. Mendukung Analisis Multi-Layer

LBS dapat dioverlay dengan berbagai data tematik.

7. Efektif untuk Screening Awal

Perusahaan dapat mengidentifikasi potensi constraint sebelum melakukan studi detail.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Fungsi Ekosistem Gambut Indonesia

Indonesia memiliki salah satu ekosistem gambut tropis terbesar di dunia. Keberadaan gambut mempunyai peranan strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan, menyimpan karbon, mengatur tata air, mempertahankan keanekaragaman hayati, sekaligus mendukung berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Namun, ekosistem gambut juga merupakan ekosistem yang sangat sensitif terhadap perubahan. Pembukaan lahan, pembangunan kanal, penurunan muka air tanah, kebakaran hutan dan lahan, hingga pembangunan infrastruktur dapat memengaruhi kondisi hidrologis gambut secara signifikan.

Karena itu, informasi mengenai fungsi ekosistem gambut menjadi salah satu data geospasial penting dalam perencanaan kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan dan pemanfaatan ruang.

Salah satu dataset yang dapat digunakan adalah Shapefile (SHP) Peta Fungsi Ekosistem Gambut Indonesia data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dataset berbentuk polygon ini memberikan informasi spasial mengenai Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), ketebalan gambut, karakteristik tanah gambut, serta fungsi lindung dan fungsi budidaya ekosistem gambut.


Mengenal Ekosistem Gambut Indonesia

Gambut terbentuk dari akumulasi material organik yang mengalami proses dekomposisi secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air selama periode yang sangat panjang.

Karakteristik tersebut membuat tanah gambut berbeda dengan tanah mineral biasa.

Lapisan gambut dapat mempunyai ketebalan yang sangat bervariasi, mulai dari relatif tipis hingga beberapa meter. Pada tabel atribut dataset yang ditampilkan, misalnya, terdapat kelas ketebalan seperti:

  • 0–0,5 meter;
  • 0,5–1,0 meter;
  • 1,0–1,5 meter;
  • 1,5–2,0 meter;
  • 2,0–2,5 meter;
  • 2,5–3,0 meter;
  • 3,5–4,0 meter;
  • 4,0–4,5 meter;
  • 4,5–5,0 meter;
  • hingga 9,0–9,5 meter.

Ketebalan tersebut menjadi informasi yang sangat penting karena karakteristik gambut dapat memengaruhi tingkat sensitivitas lingkungan suatu kawasan.

Selain ketebalan, hal yang tidak kalah penting adalah fungsi ekosistem gambut.

Secara umum, fungsi ekosistem gambut dapat dibedakan menjadi fungsi lindung dan fungsi budidaya. Informasi tersebut memungkinkan pengguna GIS mengetahui distribusi spasial fungsi ekosistem gambut dan membandingkannya dengan rencana kegiatan tertentu.



Apa Itu Peta Fungsi Ekosistem Gambut?

Peta Fungsi Ekosistem Gambut merupakan data spasial yang menggambarkan pembagian fungsi suatu ekosistem gambut dalam satuan wilayah tertentu.

Dalam dataset GIS, setiap kawasan direpresentasikan dalam bentuk polygon.

Polygon tersebut kemudian dilengkapi dengan atribut yang menjelaskan karakteristik kawasan, seperti:

Kode KHG → Ketebalan gambut → Jenis tanah → Fungsi ekosistem gambut.

Dengan demikian, dataset tidak hanya menunjukkan bahwa suatu lokasi berada pada wilayah gambut, tetapi juga memberikan informasi tambahan mengenai karakteristik dan fungsi ekologis kawasan tersebut.

Inilah yang membuat Peta Fungsi Ekosistem Gambut sangat berguna untuk analisis lingkungan berbasis GIS.

Gambaran Umum Shapefile Peta Fungsi Ekosistem Gambut

Berdasarkan tabel atribut yang dilampirkan, dataset mempunyai karakteristik utama:

InformasiKeterangan
Jenis dataData geospasial
FormatESRI Shapefile (SHP)
GeometriPolygon
TemaFungsi Ekosistem Gambut
SumberKLHK
CakupanIndonesia
Informasi utamaKHG, ketebalan gambut, jenis tanah dan fungsi ekosistem gambut
Jumlah fitur yang terlihat pada dataset±15.980 polygon
PenggunaanAnalisis lingkungan dan spasial

Jumlah fitur tersebut menunjukkan bahwa data mempunyai tingkat pembagian polygon yang cukup detail untuk digunakan dalam berbagai analisis GIS sesuai skala sumber datanya.

Struktur Data Shapefile Peta Fungsi Ekosistem Gambut



Keunggulan Shapefile Peta Fungsi Ekosistem Gambut

Beberapa keunggulan dataset ini antara lain:

1. Bersumber dari KLHK

Data memiliki sumber institusional yang relevan terhadap pengelolaan lingkungan dan kehutanan.

2. Cakupan luas

Dataset dapat digunakan untuk analisis lintas wilayah di Indonesia.

3. Berformat GIS

Polygon dapat langsung dianalisis, bukan sekadar dilihat sebagai gambar peta.

4. Memiliki atribut ketebalan gambut

Informasi peat_thick memberikan nilai tambah untuk analisis.

5. Memiliki informasi KHG

Pengguna dapat melakukan analisis berdasarkan Kesatuan Hidrologis Gambut.

6. Memiliki klasifikasi fungsi ekosistem

Fungsi lindung dan budidaya dapat langsung divisualisasikan.

7. Mudah dikombinasikan dengan dataset lain

Data dapat digunakan sebagai salah satu layer environmental constraint.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Seluruh Indonesia Skala 1:250.000

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) merupakan salah satu bencana lingkungan terbesar yang dihadapi Indonesia setiap tahun. Dampaknya tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi, gangguan kesehatan masyarakat, penurunan kualitas udara, hingga terganggunya aktivitas transportasi dan industri.

Sebagai negara dengan kawasan hutan tropis yang luas serta lahan gambut yang rentan terbakar, Indonesia membutuhkan sistem pemetaan yang akurat untuk mengidentifikasi wilayah dengan tingkat kerawanan kebakaran. Untuk mendukung upaya mitigasi tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyediakan Shapefile (SHP) Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan Skala 1:250.000 yang menjadi salah satu referensi resmi dalam pengelolaan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Dataset ini memberikan informasi spasial mengenai tingkat kerawanan kebakaran di seluruh Indonesia berdasarkan berbagai parameter biofisik dan lingkungan. Data ini sangat bermanfaat bagi pemerintah, perusahaan kehutanan, perkebunan, pertambangan, konsultan lingkungan, akademisi, maupun praktisi GIS dalam menyusun strategi mitigasi dan pengelolaan wilayah.

Apa Itu Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan?

Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan adalah peta tematik yang menunjukkan tingkat potensi suatu wilayah mengalami kebakaran berdasarkan karakteristik lingkungan dan kondisi biofisiknya.

Dalam penyusunannya, berbagai faktor dipertimbangkan, antara lain:

  • Jenis tutupan lahan
  • Kondisi vegetasi
  • Jenis tanah
  • Keberadaan lahan gambut
  • Curah hujan
  • Topografi
  • Riwayat kejadian kebakaran
  • Aktivitas manusia

Melalui pendekatan tersebut, wilayah kemudian diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkat kerawanan, mulai dari rendah, sedang, hingga tinggi.

Mengapa Data Karhutla Sangat Penting?

Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan hampir setiap musim kemarau. Wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Papua menjadi daerah yang paling sering terdampak karena memiliki hamparan hutan dan gambut yang luas.

Data spasial mengenai kerawanan kebakaran sangat penting untuk:

  • Menentukan prioritas pengawasan.
  • Menyusun rencana mitigasi.
  • Mengoptimalkan patroli lapangan.
  • Menentukan lokasi pembangunan infrastruktur pengendalian kebakaran.
  • Mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Dengan menggunakan peta rawan kebakaran, berbagai pihak dapat mengurangi risiko kerugian ekonomi maupun dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat kebakaran.



Gambaran Umum Dataset

Dataset ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Sumber Data: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
  • Skala Peta: 1:250.000
  • Format: ESRI Shapefile (.SHP)
  • Geometri: Polygon
  • Cakupan: Seluruh Indonesia

Setiap polygon merepresentasikan suatu zona dengan tingkat kerawanan kebakaran tertentu.

Struktur Data Shapefile


Insight Penting dari Dataset

1. Lahan Gambut Menjadi Faktor Risiko Utama

Sebagian besar kejadian kebakaran besar di Indonesia terjadi pada kawasan gambut karena gambut mudah terbakar dan api dapat menyala di bawah permukaan tanah.

2. Musim Kemarau Meningkatkan Risiko Karhutla

Wilayah dengan curah hujan rendah memiliki peluang kebakaran yang lebih tinggi.

3. GIS Menjadi Alat Utama Mitigasi Karhutla

Peta kerawanan memungkinkan pemerintah dan perusahaan melakukan patroli, pemantauan, serta penempatan sumber daya secara lebih efektif.

4. Data Spasial Mendukung Kebijakan Pencegahan

Pemerintah menggunakan data ini untuk menyusun strategi pencegahan kebakaran dan perlindungan kawasan hutan.

5. Data Sangat Penting bagi Dunia Usaha

Perusahaan kehutanan, perkebunan, dan pertambangan memanfaatkan data ini untuk memenuhi aspek pengelolaan lingkungan dan kepatuhan terhadap regulasi.

Keunggulan Dataset

  • Data resmi KLHK.
  • Update terbaru.
  • Cakupan seluruh Indonesia.
  • Skala 1:250.000.
  • Format SHP siap pakai.
  • Kompatibel dengan ArcGIS, QGIS, dan Global Mapper.
  • Cocok untuk Web GIS dan Dashboard Monitoring.
  • Mendukung analisis lingkungan dan mitigasi bencana. 

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia. Berdasarkan kondisi geologi regional, Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik, sehingga menjadikan wilayah Indonesia sebagai bagian dari Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia memiliki lebih dari 120 gunung api aktif, yang sebagian besar tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua. Aktivitas vulkanik ini memberikan manfaat berupa kesuburan tanah dan potensi energi panas bumi, namun di sisi lain juga menimbulkan ancaman bencana seperti:

  • Letusan gunung api
  • Aliran lava
  • Awan panas (pyroclastic flow)
  • Lahar hujan
  • Lontaran batu pijar
  • Hujan abu vulkanik
  • Gas beracun

Untuk mendukung mitigasi bencana berbasis spasial, Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyediakan Shapefile (SHP) Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Indonesia yang merupakan data resmi terbaru mengenai zona kerawanan gunung api di seluruh Indonesia.

Apa Itu Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api?

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api merupakan peta yang menggambarkan wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak bahaya erupsi gunung api berdasarkan karakteristik geologi, sejarah letusan, morfologi gunung api, serta jenis ancaman vulkanik.

Peta ini disusun berdasarkan hasil:

  • Pemetaan geologi gunung api
  • Sejarah erupsi
  • Analisis morfologi
  • Pengamatan aktivitas vulkanik
  • Kajian bahaya vulkanik

Setiap zona menunjukkan tingkat ancaman yang berbeda terhadap masyarakat dan infrastruktur.

Mengapa Data Kawasan Rawan Gunung Api Sangat Penting?

Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai letusan gunung api di Indonesia telah memberikan dampak besar terhadap masyarakat dan pembangunan.

Contohnya:

  • Erupsi Gunung Merapi
  • Gunung Sinabung
  • Gunung Semeru
  • Gunung Kelud
  • Gunung Agung
  • Gunung Anak Krakatau

Kerugian yang ditimbulkan meliputi:

  • Korban jiwa
  • Kerusakan permukiman
  • Gangguan transportasi
  • Kerusakan lahan pertanian
  • Gangguan industri
  • Penutupan bandara

Oleh karena itu, penggunaan data spasial kawasan rawan gunung api menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana.

Gambaran Umum Dataset

Dataset ini terdiri dari dua layer utama:

1. Shapefile Polygon

Berisi batas Kawasan Rawan Bencana (KRB) di sekitar gunung api.

Digunakan untuk analisis zonasi bahaya.

2. Shapefile Point

Berisi lokasi gunung api aktif beserta atribut dasar mengenai masing-masing gunung.

Digunakan sebagai referensi lokasi pusat aktivitas vulkanik.



Struktur Data Shapefile Polygon



Kegunaan Data Kawasan Rawan Gunung Api

Dataset ini sangat bermanfaat untuk:

  • Penyusunan RTRW
  • Analisis AMDAL
  • Perencanaan permukiman
  • Perencanaan jalan
  • Pembangunan bendungan
  • Jalur evakuasi
  • Mitigasi bencana
  • Penelitian vulkanologi
  • Pengembangan wisata geologi

Keunggulan Dataset

✅ Data resmi Badan Geologi.

✅ Update terbaru.

✅ Tersedia layer Point dan Polygon.

✅ Kompatibel dengan ArcGIS & QGIS.

✅ Cocok untuk Web GIS.

✅ Digunakan sebagai acuan nasional mitigasi bencana.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Geologi Indonesia (Formasi dan Umur) Update Terbaru ESDM

Peta geologi merupakan salah satu data dasar paling penting dalam dunia geologi, pertambangan, energi, hidrogeologi, infrastruktur, hingga tata ruang. Sebelum suatu wilayah dikembangkan menjadi area pertambangan, perkebunan, kawasan industri, bendungan, jalan tol, maupun kawasan permukiman, para ahli terlebih dahulu mempelajari kondisi geologi yang mendasarinya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi menyediakan Shapefile (SHP) Peta Geologi Indonesia (Formasi dan Umur) yang memuat informasi sebaran satuan batuan, formasi geologi, umur geologi, serta karakteristik geologi regional di seluruh Indonesia.

Dataset ini merupakan salah satu layer GIS paling penting bagi:

  • Perusahaan pertambangan
  • Perusahaan migas
  • Konsultan geologi
  • Konsultan GIS
  • Akademisi
  • Peneliti
  • Pemerintah daerah
  • Perusahaan konstruksi
  • Investor sektor sumber daya alam

Dengan format shapefile yang kompatibel dengan ArcGIS, QGIS, Global Mapper, dan berbagai software GIS lainnya, data ini menjadi referensi utama dalam analisis geologi nasional.



Mengapa Peta Geologi Sangat Penting?

Hampir seluruh sumber daya alam berasal dari proses geologi yang berlangsung selama jutaan tahun.

Contohnya:

  • Batubara terbentuk pada cekungan sedimen tertentu.
  • Nikel laterit berkembang di atas batuan ultramafik.
  • Emas banyak ditemukan pada sistem vulkanik dan hidrotermal.
  • Bauksit berkembang pada batuan tertentu yang mengalami pelapukan intensif.
  • Air tanah tersimpan pada formasi batuan yang memiliki porositas tinggi.

Karena itu, memahami geologi suatu wilayah merupakan langkah pertama dalam setiap proyek eksplorasi maupun pembangunan.

Gambaran Umum Dataset

Dataset ini berbentuk:

Geometri: Polygon

Sumber Data:

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) – Badan Geologi

Cakupan:

Seluruh Indonesia

Format shapefile

Sistem Koordinat:

EPSG 4326 (WGS84)

Jumlah data:

Puluhan ribu polygon satuan geologi yang mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Struktur Data Shapefile Peta Geologi Indonesia


Insight Penting dari Dataset Geologi Indonesia

1. Indonesia Didominasi Aktivitas Vulkanik

Sebagian besar wilayah Indonesia tersusun oleh batuan vulkanik muda akibat aktivitas Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).

Hal ini menjelaskan mengapa Indonesia kaya akan:

  • Emas
  • Tembaga
  • Nikel
  • Panas bumi

2. Formasi Sedimen Menjadi Kunci Batubara Nasional

Banyak cadangan batubara Indonesia berada pada:

  • Formasi Muaraenim
  • Formasi Talangakar
  • Formasi Tanjung

Formasi tersebut dapat diidentifikasi langsung melalui dataset ini.

3. Batuan Ultramafik Mengontrol Sebaran Nikel

Sebagian besar endapan nikel laterit Indonesia berkembang di atas:

  • Peridotit
  • Serpentinit
  • Dunit

Analisis geologi menjadi tahap awal eksplorasi nikel.

4. Geologi Menentukan Potensi Air Tanah

Produktivitas akuifer sangat dipengaruhi oleh jenis batuan penyusunnya.

5. Geologi Menentukan Risiko Bencana

Peta geologi digunakan dalam:

  • Analisis longsor
  • Analisis gempa
  • Analisis likuefaksi
  • Analisis vulkanik

Keunggulan Dataset Geologi Indonesia

✅ Data resmi ESDM.

✅ Cakupan seluruh Indonesia.

✅ Format SHP siap pakai.

✅ Memuat formasi geologi nasional.

✅ Memuat umur geologi.

✅ Cocok untuk eksplorasi mineral.

✅ Mendukung studi geoteknik.

✅ Mendukung analisis hidrogeologi.

✅ Mendukung kajian tata ruang.

✅ Kompatibel dengan ArcGIS dan QGIS.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share: