Selamat datang di website kami

Kami berkomitmen memberikan layanan yang presisi, cepat, dan berkualitas, baik untuk kebutuhan penelitian, pemetaan wilayah, pengelolaan aset, perencanaan proyek, maupun solusi data lainnya.
  • Fully Responsive

    • Solusi pembuatan peta dan analisis data yang tepat, revisi tanpa batas hingga hasil maksimal sesuai yang anda inginkan.
  • Friendly Support

    • Tim kami memberikan pendampingan ramah dan responsif mulai dari konsultasi kebutuhan hingga penyelesaian setiap proyek.
  • Maximum Results

    • Dengan metode analisis yang tepat dan peta berkualitas tinggi, kami memastikan hasil yang akurat dan efektif untuk mendukung keputusan terbaik Anda.

Shapefile (SHP) Peta Kesatuan Hidrologis Gambut Seluruh Indonesia

Shapefile (SHP) Peta Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Seluruh Indonesia merupakan salah satu data geospasial penting untuk memahami sebaran ekosistem gambut di Indonesia. Data ini dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG), mulai dari perencanaan pengelolaan ekosistem gambut, kajian lingkungan, penelitian, analisis tata ruang, hingga pemetaan potensi dan risiko yang berkaitan dengan kawasan gambut.

Data Kesatuan Hidrologis Gambut memiliki posisi penting karena pendekatan pengelolaan ekosistem gambut tidak hanya melihat batas administrasi, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik hidrologis suatu kawasan. Dengan demikian, satu kesatuan gambut dapat melintasi batas desa, kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi.

Dalam format Shapefile, data KHG dapat langsung digunakan pada berbagai perangkat lunak GIS seperti ArcGIS, ArcGIS Pro, QGIS, Global Mapper, MapInfo, dan aplikasi GIS lainnya.

Berdasarkan informasi geospasial tematik KLHK, KHG merupakan layer berbentuk polygon yang menggambarkan lokasi ekosistem gambut yang berada di antara dua sungai, antara sungai dan laut, dan/atau pada rawa. Informasi geospasial tematik KHG nasional tercatat pada skala 1:250.000, dengan KHG sebagai salah satu layer penting dalam pengelolaan ekosistem gambut.

Apa Itu Kesatuan Hidrologis Gambut?

Kesatuan Hidrologis Gambut atau KHG adalah satuan ekosistem gambut yang dibatasi oleh karakteristik hidrologisnya.

Pendekatan KHG sangat penting karena air merupakan salah satu faktor utama yang mengendalikan kondisi ekosistem gambut. Perubahan tata air dapat memengaruhi kelembapan gambut, tingkat dekomposisi bahan organik, risiko kebakaran, emisi karbon, kondisi vegetasi, serta keberlanjutan fungsi ekosistem.

Dengan pendekatan berbasis KHG, pengelolaan gambut dapat dilakukan secara lebih menyeluruh. Artinya, intervensi terhadap tata air di suatu bagian kawasan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap bagian lain yang masih berada dalam satu kesatuan hidrologis.

KLHK menjelaskan bahwa KHG digunakan sebagai dasar penting dalam inventarisasi dan pengelolaan ekosistem gambut. Informasi KHG nasional juga menjadi bagian dari kerangka pengelolaan dan perlindungan ekosistem gambut di Indonesia.



Peta KHG Nasional Indonesia

Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.129/MENLHK/SETJEN/PKL.0/2/2017 tentang Penetapan Peta Kesatuan Hidrologis Gambut Nasional, Indonesia memiliki 865 Kesatuan Hidrologis Gambut dengan luas total sekitar 24,67 juta hektare.

KHG tersebut tersebar di beberapa pulau utama Indonesia, yaitu:

  • Sumatera
  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Papua

KLHK mencatat 207 KHG berada di Sumatera, 190 KHG di Kalimantan, 3 KHG di Sulawesi, dan 465 KHG di Papua.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ekosistem gambut Indonesia memiliki cakupan yang sangat luas dan karakteristik yang beragam.

Struktur Data Shapefile Peta Kesatuan Hidrologis Gambut


Kode_khg

Ini merupakan salah satu field paling penting dalam dataset.

Field tersebut berisi kode Kesatuan Hidrologis Gambut.

Contoh kode yang terlihat pada tabel:

  • KHG.12.01.06
  • KHG.12.13.02
  • KHG.12.16.02
  • KHG.16.07.04
  • KHG.16.07.04
  • KHG.12.01.04
  • KHG.12.16.01
  • KHG.16.07.08
  • KHG.14.10.01

Kode tersebut digunakan untuk membedakan satu KHG dengan KHG lainnya.

Informasi resmi KLHK juga menjelaskan bahwa KODE_KHG merupakan kode dari masing-masing Kesatuan Hidrologis Gambut sesuai dengan penetapan KHG nasional.

Karena itu, bagi pengguna GIS, field kode_khg sangat penting ketika melakukan:

  • query;
  • seleksi KHG;
  • penggabungan tabel;
  • spatial join;
  • identifikasi KHG;
  • analisis per KHG;
  • pengelompokan data;
  • pembuatan peta tematik.

Keunggulan Shapefile Peta KHG

Ada beberapa alasan mengapa data ini sangat bernilai bagi pengguna GIS.

Data berbasis spasial

Data tidak hanya memberikan daftar KHG, tetapi juga memberikan batas spasial polygon sehingga dapat digunakan untuk analisis geografis.

Memiliki kode KHG

Field kode_khg memberikan identitas untuk setiap KHG dan mempermudah proses database maupun analisis.

Siap digunakan di software GIS

Format Shapefile dapat digunakan pada banyak perangkat lunak GIS populer.

Dapat di-overlay

KHG dapat digabungkan dengan berbagai data spasial lainnya.

Mendukung analisis skala nasional

Karena mencakup KHG nasional, dataset dapat digunakan untuk analisis dari tingkat nasional hingga wilayah tertentu.

Mempermudah visualisasi

Pengguna dapat membuat peta tematik KHG dengan cepat.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Seismisitas Gempa Bumi Indonesia Update Terbaru

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi di dunia. Letaknya yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik, menyebabkan wilayah Indonesia mengalami ribuan kejadian gempa bumi setiap tahunnya. Oleh karena itu, ketersediaan data spasial mengenai sebaran gempa bumi menjadi sangat penting sebagai dasar dalam mitigasi bencana, penelitian geologi, perencanaan infrastruktur, hingga investasi.

Shapefile (SHP) Peta Seismisitas Gempa Bumi Indonesia Update Terbaru Badan Geologi merupakan dataset GIS resmi yang memuat informasi lokasi kejadian gempa bumi beserta atribut penting seperti tanggal kejadian, waktu, koordinat, kedalaman hiposenter, magnitudo, hingga klasifikasi kedalaman gempa. Dataset ini disusun berdasarkan data resmi Badan Geologi sehingga memiliki tingkat keandalan tinggi untuk berbagai kebutuhan profesional.

Apa itu Peta Seismisitas Gempa Bumi?

Peta seismisitas merupakan peta yang menggambarkan persebaran kejadian gempa bumi berdasarkan lokasi episenter beserta karakteristik kegempaannya.

Berbeda dengan peta zonasi bahaya gempa yang menunjukkan tingkat percepatan tanah maksimum, peta seismisitas lebih menampilkan catatan historis aktivitas gempa sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang aktif secara tektonik.

Melalui dataset ini pengguna dapat mengetahui:

  • Lokasi episenter gempa
  • Persebaran aktivitas gempa
  • Magnitudo setiap kejadian
  • Kedalaman gempa
  • Waktu kejadian
  • Riwayat aktivitas kegempaan
  • Pola sebaran sepanjang sesar aktif
  • Aktivitas subduksi
  • Klaster kegempaan

Mengapa Data Seismisitas Sangat Penting?

Data seismisitas merupakan salah satu data dasar dalam kajian geologi teknik dan mitigasi bencana.

Banyak kegiatan pembangunan memerlukan analisis terhadap sejarah kegempaan sebelum proyek dimulai, seperti:

  • pembangunan bendungan
  • pembangunan jalan tol
  • pembangunan pelabuhan
  • pembangunan bandara
  • pembangunan kawasan industri
  • pembangunan PLTA
  • pembangunan PLTU
  • pembangunan kilang migas
  • pembangunan smelter
  • pembangunan kawasan permukiman
  • pembangunan gedung bertingkat


Semakin lengkap informasi aktivitas gempa pada suatu wilayah, maka semakin baik pula analisis risiko yang dapat dilakukan.

Struktur Data Shapefile


Keunggulan Dataset Ini

Beberapa keunggulan utama Shapefile Peta Seismisitas Gempa Bumi Indonesia antara lain:

Data resmi Badan Geologi

Menggunakan sumber data resmi pemerintah sehingga memiliki tingkat kredibilitas tinggi.

Format GIS siap pakai

Tidak memerlukan digitasi ulang.

Mudah dianalisis

Dapat langsung digunakan pada berbagai software GIS.

Memiliki atribut lengkap

Selain lokasi titik, dataset juga menyediakan informasi waktu kejadian, magnitudo, kedalaman, serta klasifikasi kedalaman gempa.

Mudah dikombinasikan

Dataset dapat dioverlay dengan:

  • Peta Geologi
  • Peta Litologi
  • Peta Sesar Aktif
  • DEM Nasional
  • Peta Lereng
  • Peta Administrasi
  • RTRW
  • Penggunaan Lahan
  • Infrastruktur
  • Kepadatan Penduduk

Mempercepat Analisis

Pengguna tidak perlu lagi melakukan pengumpulan data gempa secara manual.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Ketersediaan Air Seluruh Indonesia Update Terbaru

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang paling vital bagi kehidupan manusia, pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, energi, hingga keberlanjutan lingkungan. Di Indonesia, pengelolaan sumber daya air menjadi tantangan yang semakin kompleks seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, perubahan iklim, urbanisasi, serta kebutuhan air untuk berbagai sektor seperti rumah tangga, pertanian, industri, dan pembangkit listrik.

Dalam mendukung pengelolaan sumber daya air secara terpadu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air menyediakan berbagai informasi spasial yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Salah satu dataset yang paling penting adalah Shapefile (SHP) Peta Ketersediaan Air Seluruh Indonesia.

Dataset ini merupakan update terbaru yang dirilis oleh Kementerian PUPR, yang menyajikan informasi mengenai kondisi ketersediaan air pada berbagai wilayah sungai (WS) dan wilayah daerah aliran air (WD) di Indonesia. Data disajikan dalam format ESRI Shapefile (SHP) sehingga dapat langsung digunakan pada berbagai perangkat lunak GIS seperti ArcGIS, ArcGIS Pro, QGIS, Global Mapper, MapInfo, AutoCAD Map, maupun aplikasi SIG lainnya.

Selain menampilkan batas wilayah ketersediaan air, dataset ini juga dilengkapi dengan atribut penting seperti status wilayah sungai, klasifikasi ketersediaan air, kondisi neraca air, tingkat kekritisan air baku, kondisi tekanan ketersediaan air, populasi, koordinat, hingga informasi kebutuhan dan ketersediaan air.

Mengapa Data Ketersediaan Air Sangat Penting?

Air bukan hanya menjadi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga merupakan faktor utama dalam mendukung pembangunan nasional. Hampir seluruh sektor pembangunan bergantung pada ketersediaan sumber daya air yang memadai.

Beberapa sektor yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan air antara lain:

  • Pertanian dan irigasi
  • Penyediaan air minum
  • Industri manufaktur
  • Pertambangan
  • Perkebunan
  • Energi dan PLTA
  • Kawasan industri
  • Kawasan permukiman
  • Ketahanan pangan
  • Konservasi lingkungan



Ketidakseimbangan antara kebutuhan air dan ketersediaan air dapat menyebabkan berbagai permasalahan, seperti kekeringan, krisis air bersih, konflik pemanfaatan air, hingga penurunan produktivitas ekonomi.

Oleh karena itu, keberadaan data spasial mengenai ketersediaan air menjadi sangat penting sebagai dasar dalam proses perencanaan pembangunan maupun pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Struktur Data Shapefile Ketersediaan Air



Keunggulan Shapefile Peta Ketersediaan Air Data PUPR

Dibandingkan dataset yang beredar bebas di internet, Shapefile Ketersediaan Air resmi dari Kementerian PUPR memiliki berbagai keunggulan yang menjadikannya sebagai referensi utama dalam analisis spasial sumber daya air.

1. Data Resmi Kementerian PUPR

Dataset berasal dari instansi pemerintah yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sumber daya air nasional, sehingga memiliki tingkat validitas dan kredibilitas yang tinggi.

2. Update Terbaru

Data yang tersedia merupakan pembaruan terbaru dari Kementerian PUPR, sehingga informasi mengenai kondisi ketersediaan air lebih mutakhir dibandingkan dataset lama.

3. Format ESRI Shapefile

Dataset tersedia dalam format standar GIS yang terdiri dari file: shp, shx, dbf, prj

Format ini kompatibel dengan hampir seluruh software GIS tanpa memerlukan proses konversi tambahan.

4. Siap Digunakan di ArcGIS dan QGIS

Dataset dapat langsung digunakan untuk berbagai kebutuhan analisis spasial pada:

  • ArcGIS Desktop
  • ArcGIS Pro
  • QGIS
  • Global Mapper
  • MapInfo
  • AutoCAD Map
  • Google Earth (setelah konversi)

5. Informasi Atribut Sangat Lengkap

Berdasarkan struktur data yang Anda lampirkan, shapefile ini memuat berbagai informasi penting, seperti:

  • Nama wilayah sungai
  • Nama wilayah daerah air
  • Status wilayah sungai
  • Ketersediaan air
  • Kebutuhan air
  • Neraca air
  • Tingkat kekritisan air baku
  • Tingkat kelangkaan air
  • Jumlah penduduk
  • Luas wilayah
  • Koordinat lokasi
  • Ketersediaan air baku
  • Kondisi tekanan sumber daya air

Kelengkapan atribut ini memungkinkan pengguna melakukan analisis secara lebih detail dibandingkan hanya menggunakan data spasial tanpa informasi pendukung.

6. Mudah Dikombinasikan dengan Dataset Lain

Salah satu keunggulan utama dataset ini adalah kemudahan untuk dioverlay dengan berbagai data spasial lainnya, melalui proses overlay tersebut, pengguna dapat menghasilkan berbagai analisis spasial yang lebih komprehensif untuk mendukung pengambilan keputusan.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Sebaran Pelabuhan Umum Seluruh Indonesia Update Terbaru

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau yang dihubungkan oleh jaringan transportasi laut. Pelabuhan menjadi tulang punggung distribusi barang, mobilitas penumpang, logistik nasional, perdagangan internasional, hingga pengembangan kawasan industri dan ekonomi maritim. Oleh karena itu, ketersediaan data spasial pelabuhan yang akurat sangat penting bagi berbagai kalangan, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, konsultan, akademisi, hingga peneliti.

Bagi pengguna Sistem Informasi Geografis (GIS), Shapefile (SHP) Peta Sebaran Pelabuhan Umum Seluruh Indonesia Data Resmi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merupakan salah satu dataset yang sangat bernilai. Data ini menyajikan lokasi pelabuhan umum secara spasial lengkap dengan berbagai atribut penting yang dapat digunakan dalam analisis, pemetaan, maupun perencanaan.

Dataset ini merupakan update terbaru yang dirilis oleh Kementerian Perhubungan, sehingga informasi yang tersedia lebih mutakhir dibandingkan dataset lama yang masih banyak beredar di internet.

Apa Itu Shapefile Peta Sebaran Pelabuhan Umum?

Shapefile Peta Sebaran Pelabuhan Umum adalah dataset spasial berbentuk Point yang menggambarkan lokasi seluruh pelabuhan umum di Indonesia berdasarkan data resmi Kementerian Perhubungan.

Setiap titik pelabuhan memiliki atribut yang menjelaskan identitas pelabuhan, wilayah administrasi, kode pelabuhan, otoritas pengelola, hingga berbagai fasilitas pendukung.

Dataset ini sangat cocok digunakan untuk:

  • Analisis transportasi laut
  • Analisis logistik nasional
  • Perencanaan pembangunan pelabuhan
  • Kajian konektivitas antarwilayah
  • Analisis jaringan distribusi barang
  • Kajian investasi kawasan pesisir
  • Penelitian ekonomi maritim
  • Penyusunan RTRW
  • Kajian kawasan industri
  • Analisis supply chain
  • Pemetaan wilayah pelayanan pelabuhan



Mengapa Data Pelabuhan Sangat Penting?

Pelabuhan merupakan simpul utama dalam sistem transportasi nasional. Hampir seluruh distribusi komoditas antar pulau bergantung pada keberadaan pelabuhan.

Tanpa data spasial yang akurat, berbagai analisis menjadi kurang optimal, misalnya:

  • menentukan lokasi industri baru,
  • memilih lokasi terminal logistik,
  • menganalisis akses distribusi,
  • menghitung jarak transportasi,
  • merancang jaringan pelayaran,
  • menentukan wilayah pelayanan pelabuhan.

Karena itu data resmi dari Kementerian Perhubungan menjadi referensi utama bagi berbagai instansi maupun perusahaan.

Struktur Data Shapefile



Keunggulan Shapefile Peta Sebaran Pelabuhan Umum Data Kemenhub

Berikut beberapa keunggulan dataset ini dibandingkan data yang tersedia secara bebas di internet.

1. Data Resmi Kementerian Perhubungan

Dataset berasal dari instansi pemerintah yang memiliki kewenangan terhadap pengelolaan pelabuhan nasional.

2. Update Terbaru

Data merupakan pembaruan terbaru yang diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan sehingga informasi pelabuhan lebih lengkap dibandingkan dataset lama.

3. Format ESRI Shapefile

Data tersedia dalam format: SHP, SHX, DBF, PRJ

Sehingga langsung dapat digunakan tanpa proses digitasi ulang.

4. Siap Digunakan di Berbagai Software GIS

Dataset kompatibel dengan: ArcGIS Desktop, ArcGIS Pro, QGIS, Global Mapper, MapInfo, AutoCAD Map, Google Earth

5. Memiliki Informasi Administrasi Lengkap

Selain koordinat, data juga memuat:

  • Nama pelabuhan
  • Provinsi
  • Kabupaten/Kota
  • Kode wilayah
  • Nama kantor penyelenggara
  • Tipe pelabuhan
  • Kode pelabuhan
  • Informasi fasilitas

6. Memiliki Koordinat Presisi

Lokasi setiap pelabuhan telah disimpan dalam bentuk koordinat spasial sehingga mudah dipadukan dengan berbagai data lainnya.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Indikatif Tumpang Tindih HGU dan Tutupan Kelapa Sawit Indonesia

Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Perkembangan industri perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional melalui peningkatan ekspor, penyerapan tenaga kerja, hingga pembangunan daerah. Di sisi lain, perkembangan perkebunan sawit juga menghadirkan tantangan dalam pengelolaan ruang, terutama terkait kesesuaian izin Hak Guna Usaha (HGU), kawasan hutan, dan pemanfaatan lahan.

Untuk mendukung tata kelola perkebunan yang lebih baik, pemerintah melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menyusun Peta Indikatif Tumpang Tindih HGU dan Tutupan Kelapa Sawit (PITTI). Dataset ini menjadi salah satu referensi penting dalam mengidentifikasi lokasi-lokasi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut terhadap hubungan antara HGU, tutupan kelapa sawit, serta status kawasan.

Kini data tersebut tersedia dalam format Shapefile (SHP) sehingga dapat langsung digunakan pada berbagai perangkat lunak GIS seperti ArcGIS, ArcGIS Pro, QGIS, Global Mapper, MapInfo, maupun aplikasi spasial lainnya.

Bagi perusahaan perkebunan, perusahaan tambang, konsultan GIS, instansi pemerintah, akademisi, maupun investor, keberadaan data spasial ini sangat membantu dalam proses analisis lokasi, perencanaan proyek, evaluasi perizinan, hingga penyusunan kebijakan berbasis data.

Apa Itu Peta Indikatif Tumpang Tindih HGU dan Tutupan Kelapa Sawit?

Peta Indikatif Tumpang Tindih HGU dan Tutupan Kelapa Sawit merupakan dataset spasial yang menggambarkan hubungan antara wilayah Hak Guna Usaha (HGU), tutupan kelapa sawit, serta status penggunaan kawasan berdasarkan hasil kompilasi berbagai sumber data pemerintah.

Dataset ini disusun untuk memberikan gambaran indikatif mengenai lokasi-lokasi yang memerlukan verifikasi lebih lanjut terkait pemanfaatan lahan perkebunan kelapa sawit.

Melalui data ini pengguna dapat mengetahui apakah suatu area berada:

  • di dalam kawasan HGU,
  • di luar kawasan HGU,
  • berada dalam kawasan hutan,
  • berada di Area Penggunaan Lain (APL),
  • atau termasuk wilayah yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Karena berbentuk polygon, setiap area dapat dihitung luasnya, dianalisis secara spasial, maupun dioverlay dengan berbagai data geospasial lainnya.



Mengapa Dataset Ini Sangat Penting?

Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah semakin memperkuat tata kelola lahan melalui sinkronisasi data pertanahan, kawasan hutan, perkebunan, hingga tata ruang.

Salah satu tantangan terbesar adalah adanya perbedaan antara:

  • batas HGU,
  • tutupan kelapa sawit aktual,
  • status kawasan hutan,
  • serta penggunaan lahan eksisting.

Melalui Peta Indikatif Tumpang Tindih HGU dan Tutupan Kelapa Sawit, proses identifikasi tersebut menjadi jauh lebih mudah karena seluruh informasi telah disajikan dalam bentuk spasial.

Dataset ini menjadi dasar penting dalam:

  • inventarisasi penggunaan lahan,
  • evaluasi izin perkebunan,
  • sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah,
  • analisis investasi,
  • penyusunan RTRW,
  • hingga penyelesaian konflik pemanfaatan ruang.

Insight Penting Dataset PITTI HGU dan Tutupan Kelapa Sawit

Beberapa informasi penting yang dapat diperoleh dari dataset ini antara lain:

1. Identifikasi Tutupan Sawit Non-HGU

Dataset mampu menunjukkan lokasi tutupan kelapa sawit yang berada di luar area Hak Guna Usaha sehingga dapat menjadi bahan evaluasi administrasi maupun kebijakan.

2. Identifikasi Sawit di Dalam Kawasan Hutan

Melalui atribut kategori, pengguna dapat mengetahui area tutupan sawit yang berada di dalam kawasan hutan sehingga memudahkan analisis legalitas maupun penyusunan kebijakan.

3. Mendukung Analisis Perizinan

Data ini sangat berguna untuk membandingkan posisi HGU terhadap kondisi penggunaan lahan aktual.

Struktur Data Shapefile



Keunggulan Shapefile PITTI HGU dan Tutupan Kelapa Sawit

Dibandingkan peta statis dalam format PDF atau gambar, dataset Shapefile menawarkan berbagai keunggulan yang sangat bermanfaat bagi pengguna GIS.

Data Resmi ATR/BPN

Dataset bersumber dari instansi pemerintah sehingga memiliki tingkat kredibilitas tinggi dan dapat digunakan sebagai referensi dalam berbagai analisis spasial.

Format Polygon

Seluruh objek disajikan dalam bentuk polygon sehingga setiap area dapat dihitung luasnya secara otomatis, dianalisis, dan dioverlay dengan berbagai data geospasial lainnya.

Mudah Digunakan

Shapefile dapat langsung dibuka menggunakan ArcGIS, ArcGIS Pro, QGIS, Global Mapper, MapInfo, AutoCAD Map, maupun perangkat lunak GIS lainnya tanpa memerlukan proses konversi tambahan.

Siap untuk Analisis Overlay

Dataset dapat dikombinasikan dengan berbagai layer spasial seperti kawasan hutan, RTRW, RDTR, WIUP, HGU, jaringan jalan, sungai, administrasi, hingga citra satelit untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.

Mendukung Analisis Perizinan

Data membantu mengidentifikasi hubungan antara wilayah HGU, tutupan kelapa sawit, dan status kawasan sehingga sangat berguna dalam evaluasi legalitas, perencanaan investasi, maupun kajian tata ruang.

Memiliki Informasi Atribut Lengkap

Selain informasi spasial, setiap polygon dilengkapi atribut administratif, tipologi, kategori kawasan, dasar hukum, metadata, serta luas area yang memudahkan proses analisis dan penyusunan laporan.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Mangrove Indonesia Skala 1:25.000 Update 2026

Indonesia memiliki salah satu ekosistem mangrove terpenting di dunia. Keberadaan mangrove bukan hanya berkaitan dengan konservasi lingkungan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam perlindungan garis pantai, penyimpanan karbon, habitat biota, perikanan, pengendalian abrasi, hingga perencanaan pembangunan di kawasan pesisir.

Dalam kegiatan pembangunan, keberadaan mangrove juga menjadi salah satu aspek penting yang perlu diketahui sejak tahap awal. Rencana pembangunan pelabuhan, kawasan industri, jalan, pertambangan, smelter, jetty, terminal khusus, kawasan wisata, permukiman hingga berbagai proyek pesisir perlu mempertimbangkan kondisi tutupan mangrove di sekitar lokasi kegiatan.

Untuk melakukan analisis tersebut secara lebih akurat diperlukan data geospasial yang dapat menunjukkan lokasi dan distribusi mangrove secara spasial.

Salah satu dataset yang sangat berguna untuk kebutuhan tersebut adalah Shapefile (SHP) Peta Mangrove Indonesia Skala 1:25.000 Update 2026 KLHK.

Berdasarkan attribute table yang ditampilkan, dataset ini mempunyai tingkat detail yang sangat baik. Data terdiri dari sekitar 240.462 feature polygon dan dilengkapi informasi mengenai kelas mangrove, sumber citra, tahun pembuatan, instansi, kondisi pembentukan, wilayah DAS, fungsi kawasan hutan, provinsi, kabupaten/kota, serta informasi luas/geometri.

Hal yang menarik lainnya adalah informasi sumber data pada attribute table yang menunjukkan penggunaan citra SPOT 8 Tahun 2025–2026 dan Sentinel-2A Tahun 2026.

Dengan skala 1:25.000, dataset ini sangat menarik untuk analisis spasial yang membutuhkan detail lebih tinggi dibandingkan peta mangrove skala regional.

Mengenal Shapefile Peta Mangrove Indonesia Update 2026 KLHK

Dataset yang dibahas adalah:

Shapefile Peta Mangrove Indonesia Skala 1:25.000 Update 2026 KLHK

Beberapa karakteristik yang terlihat dari data adalah:

InformasiKeterangan
TemaPeta Mangrove
FormatESRI Shapefile (SHP)
GeometriPolygon
Skala1:25.000
Tahun data2026
SumberKLHK
Jumlah feature±240.462 polygon
Sumber citra pada atributSPOT 8 2025–2026 & Sentinel-2A 2026
CakupanIndonesia
Analisis utamaMangrove dan wilayah pesisir

Jumlah feature yang sangat besar menunjukkan bahwa data mangrove direpresentasikan dalam banyak polygon, sehingga memungkinkan analisis spasial yang jauh lebih detail.



Struktur Data Shapefile Peta Mangrove 2026


Keunggulan Shapefile Peta Mangrove Update 2026

Dataset ini mempunyai sejumlah keunggulan yang membuatnya sangat menarik untuk berbagai kebutuhan GIS.

1. Skala Detail 1:25.000

Skala 1:25.000 menjadi salah satu keunggulan paling penting.

Data dapat digunakan untuk screening dan analisis spasial yang lebih detail dibandingkan peta mangrove berskala kecil.

2. Update Tahun 2026

Data menunjukkan tahun pembuatan/pembaruan 2026, sehingga memberikan gambaran mangrove yang lebih mutakhir dibandingkan dataset lama.

3. Menggunakan Referensi Citra Terkini

Pada atribut tercantum:

SPOT 8 Tahun 2025–2026 dan Sentinel-2A Tahun 2026.

Informasi sumber citra meningkatkan transparansi terhadap basis data penginderaan jauh yang digunakan.

4. Bersumber dari KLHK

Data mempunyai sumber institusi pemerintah yang jelas sehingga lebih mudah digunakan sebagai referensi dalam berbagai kajian profesional.

5. Jumlah Feature Sangat Detail

Dataset mempunyai sekitar:

240.462 polygon.

Jumlah tersebut menunjukkan tingginya segmentasi spasial data dan memungkinkan analisis yang lebih terperinci.

6. Dilengkapi Informasi Administrasi

Tersedia informasi:

Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Ini memudahkan proses filtering dan analisis per wilayah.

7. Memuat Informasi Fungsi Kawasan

Adanya field fungsi kawasan memberikan nilai tambah yang sangat besar.

Pengguna dapat melihat konteks kawasan tempat mangrove berada.

8. Memiliki Informasi Kondisi Mangrove

Field seperti kttj dan remark memberikan informasi lebih dari sekadar keberadaan polygon mangrove.

9. Siap untuk Analisis GIS

Data dapat digunakan untuk:

Clip, Intersect, Union, Dissolve, Buffer, Spatial Join, Select by Location dan Calculate Geometry.

10. Mudah Dioverlay dengan Data Proyek

Ini merupakan keunggulan utama format SHP.

Batas proyek dapat langsung dibandingkan dengan sebaran mangrove untuk mengetahui potensi overlap.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share:

Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 Badan Geologi

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas tektonik yang tinggi. Posisi Indonesia berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik utama menyebabkan berbagai wilayah mempunyai potensi gempa bumi yang signifikan. Selain ancaman berupa guncangan, gempa bumi juga dapat memicu bahaya sekunder yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, salah satunya adalah likuifaksi.

Peristiwa likuifaksi menjadi perhatian besar karena dapat menyebabkan tanah kehilangan kekuatan dan kekakuannya dalam waktu relatif singkat ketika menerima beban siklik akibat gempa. Dampaknya dapat berupa penurunan tanah, pergeseran lateral, semburan pasir, deformasi permukaan, kerusakan fondasi, hingga kegagalan struktur.

Dalam konteks pembangunan, informasi mengenai daerah yang memiliki kerentanan terhadap likuifaksi sangat penting. Pembangunan kawasan industri, jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, fasilitas pertambangan, perumahan, gedung, bendungan, pembangkit listrik, hingga berbagai fasilitas strategis membutuhkan pemahaman mengenai kondisi geologi dan potensi bahaya geologi pada lokasi yang direncanakan.

Salah satu dataset geospasial yang dapat digunakan untuk mendukung proses tersebut adalah Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 Badan Geologi.

Dataset ini sangat berguna sebagai salah satu screening layer dalam analisis geospasial karena memungkinkan pengguna mengetahui distribusi zona kerentanan likuifaksi secara spasial, mengidentifikasi tingkat kerentanannya, serta mengombinasikannya dengan berbagai data lain menggunakan Geographic Information System (GIS).

Mengenal Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000

Dataset yang dibahas dalam artikel ini adalah:

Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 – Badan Geologi.

Berdasarkan attribute table yang ditampilkan, dataset menggunakan geometri:

Polygon

Polygon tersebut merepresentasikan zona kerentanan likuifaksi.

Attribute table menunjukkan tiga kelas utama kerentanan yang direpresentasikan dengan nilai:

1, 2, dan 3.

Keterangan atribut memberikan penjelasan karakteristik masing-masing zona.

Secara umum, struktur dataset dapat diringkas sebagai berikut:

InformasiKeterangan
DatasetPeta Kerentanan Likuifaksi Indonesia
FormatESRI Shapefile (SHP)
GeometriPolygon
Skala1:100.000
Update2026
SumberBadan Geologi
TemaKerentanan Likuifaksi
Klasifikasi3 kelas
PenggunaanMitigasi bencana dan screening geologi



Struktur Data Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi


Field kerentan

Ini merupakan salah satu field paling penting dalam dataset.

Field kerentan menunjukkan kelas kerentanan likuifaksi.

Berdasarkan attribute table, terdapat tiga nilai:

1, 2, 3

Menariknya, berdasarkan keterangan pada screenshot, nilai numerik tersebut perlu dibaca bersama field keterangan, bukan langsung diasumsikan bahwa angka terbesar berarti tingkat bahaya terbesar.

Pada data yang ditampilkan:

Kerentan 3

Dijelaskan sebagai zona yang jarang mengalami likuifaksi.

Likuifaksi yang terjadi umumnya berupa titik-titik semburan pasir dan relatif sedikit menimbulkan kerusakan pada struktur tanah.

Kerentan 2

Merupakan zona yang dapat mengalami likuifaksi secara tidak merata, dengan kemungkinan kerusakan struktur tanah.

Kerentan 1

Merupakan zona yang dapat mengalami likuifaksi secara merata dan struktur tanah pada umumnya dapat mengalami kerusakan yang lebih serius.

Keunggulan Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi

Beberapa keunggulan utama Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia antara lain:

  • Bersumber dari Badan Geologi sehingga memiliki referensi institusi resmi dan dapat digunakan sebagai data pendukung kajian geologi serta kebencanaan.
  • Skala 1:100.000, cukup detail untuk kebutuhan screening regional, perencanaan wilayah, dan identifikasi awal area yang memiliki kerentanan likuifaksi.
  • Memiliki klasifikasi tingkat kerentanan, sehingga pengguna dapat membedakan zona berdasarkan potensi dan karakteristik kejadian likuifaksi.
  • Dilengkapi informasi atribut, termasuk kelas kerentanan dan keterangan mengenai karakteristik kerusakan yang mungkin terjadi.
  • Siap digunakan dalam GIS, seperti ArcGIS, ArcMap, QGIS, dan Global Mapper.
  • Mudah dioverlay dengan data lain, seperti batas proyek, peta geologi, sesar aktif, kawasan rawan gempa, jaringan jalan, RTRW, permukiman, kawasan industri, dan wilayah pertambangan.
  • Mendukung analisis spasial, seperti Clip, Intersect, Spatial Join, Select by Location, serta perhitungan luas area yang masuk zona kerentanan tertentu.
  • Efektif untuk screening lokasi proyek, sehingga area yang memerlukan investigasi geoteknik lebih lanjut dapat diketahui sejak tahap awal.
  • Mendukung mitigasi risiko, khususnya untuk pembangunan jalan, jembatan, kawasan industri, pelabuhan, bandara, pertambangan, smelter, dan fasilitas strategis lainnya.
  • Lebih fleksibel dibandingkan peta JPG/PDF, karena objek polygon dan atributnya dapat diedit, difilter, dianalisis, serta dikombinasikan dengan database geospasial lainnya.

Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?

Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :


Share: