Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas tektonik yang tinggi. Posisi Indonesia berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik utama menyebabkan berbagai wilayah mempunyai potensi gempa bumi yang signifikan. Selain ancaman berupa guncangan, gempa bumi juga dapat memicu bahaya sekunder yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, salah satunya adalah likuifaksi.
Peristiwa likuifaksi menjadi perhatian besar karena dapat menyebabkan tanah kehilangan kekuatan dan kekakuannya dalam waktu relatif singkat ketika menerima beban siklik akibat gempa. Dampaknya dapat berupa penurunan tanah, pergeseran lateral, semburan pasir, deformasi permukaan, kerusakan fondasi, hingga kegagalan struktur.
Dalam konteks pembangunan, informasi mengenai daerah yang memiliki kerentanan terhadap likuifaksi sangat penting. Pembangunan kawasan industri, jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, fasilitas pertambangan, perumahan, gedung, bendungan, pembangkit listrik, hingga berbagai fasilitas strategis membutuhkan pemahaman mengenai kondisi geologi dan potensi bahaya geologi pada lokasi yang direncanakan.
Salah satu dataset geospasial yang dapat digunakan untuk mendukung proses tersebut adalah Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 Badan Geologi.
Dataset ini sangat berguna sebagai salah satu screening layer dalam analisis geospasial karena memungkinkan pengguna mengetahui distribusi zona kerentanan likuifaksi secara spasial, mengidentifikasi tingkat kerentanannya, serta mengombinasikannya dengan berbagai data lain menggunakan Geographic Information System (GIS).
Mengenal Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000
Dataset yang dibahas dalam artikel ini adalah:
Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia Skala 1:100.000 Update 2026 – Badan Geologi.
Berdasarkan attribute table yang ditampilkan, dataset menggunakan geometri:
Polygon
Polygon tersebut merepresentasikan zona kerentanan likuifaksi.
Attribute table menunjukkan tiga kelas utama kerentanan yang direpresentasikan dengan nilai:
1, 2, dan 3.
Keterangan atribut memberikan penjelasan karakteristik masing-masing zona.
Secara umum, struktur dataset dapat diringkas sebagai berikut:
| Informasi | Keterangan |
|---|---|
| Dataset | Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia |
| Format | ESRI Shapefile (SHP) |
| Geometri | Polygon |
| Skala | 1:100.000 |
| Update | 2026 |
| Sumber | Badan Geologi |
| Tema | Kerentanan Likuifaksi |
| Klasifikasi | 3 kelas |
| Penggunaan | Mitigasi bencana dan screening geologi |
Struktur Data Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi
Field kerentan
Ini merupakan salah satu field paling penting dalam dataset.
Field kerentan menunjukkan kelas kerentanan likuifaksi.
Berdasarkan attribute table, terdapat tiga nilai:
1, 2, 3
Menariknya, berdasarkan keterangan pada screenshot, nilai numerik tersebut perlu dibaca bersama field keterangan, bukan langsung diasumsikan bahwa angka terbesar berarti tingkat bahaya terbesar.
Pada data yang ditampilkan:
Kerentan 3
Dijelaskan sebagai zona yang jarang mengalami likuifaksi.
Likuifaksi yang terjadi umumnya berupa titik-titik semburan pasir dan relatif sedikit menimbulkan kerusakan pada struktur tanah.
Kerentan 2
Merupakan zona yang dapat mengalami likuifaksi secara tidak merata, dengan kemungkinan kerusakan struktur tanah.
Kerentan 1
Merupakan zona yang dapat mengalami likuifaksi secara merata dan struktur tanah pada umumnya dapat mengalami kerusakan yang lebih serius.
Keunggulan Shapefile Peta Kerentanan Likuifaksi
Beberapa keunggulan utama Shapefile (SHP) Peta Kerentanan Likuifaksi Indonesia antara lain:
- Bersumber dari Badan Geologi sehingga memiliki referensi institusi resmi dan dapat digunakan sebagai data pendukung kajian geologi serta kebencanaan.
- Skala 1:100.000, cukup detail untuk kebutuhan screening regional, perencanaan wilayah, dan identifikasi awal area yang memiliki kerentanan likuifaksi.
- Memiliki klasifikasi tingkat kerentanan, sehingga pengguna dapat membedakan zona berdasarkan potensi dan karakteristik kejadian likuifaksi.
- Dilengkapi informasi atribut, termasuk kelas kerentanan dan keterangan mengenai karakteristik kerusakan yang mungkin terjadi.
- Siap digunakan dalam GIS, seperti ArcGIS, ArcMap, QGIS, dan Global Mapper.
- Mudah dioverlay dengan data lain, seperti batas proyek, peta geologi, sesar aktif, kawasan rawan gempa, jaringan jalan, RTRW, permukiman, kawasan industri, dan wilayah pertambangan.
- Mendukung analisis spasial, seperti Clip, Intersect, Spatial Join, Select by Location, serta perhitungan luas area yang masuk zona kerentanan tertentu.
- Efektif untuk screening lokasi proyek, sehingga area yang memerlukan investigasi geoteknik lebih lanjut dapat diketahui sejak tahap awal.
- Mendukung mitigasi risiko, khususnya untuk pembangunan jalan, jembatan, kawasan industri, pelabuhan, bandara, pertambangan, smelter, dan fasilitas strategis lainnya.
- Lebih fleksibel dibandingkan peta JPG/PDF, karena objek polygon dan atributnya dapat diedit, difilter, dianalisis, serta dikombinasikan dengan database geospasial lainnya.
Bagaimana Cara Mendapatkan Data Ini?
Kami menyediakan akses data ini secara terbatas untuk kebutuhan profesional dan akademis. Anda dapat menghubungi kami langsung atau menekan tombol download berikut :









Tidak ada komentar:
Posting Komentar